🍽️ Kisah Perjuangan Menjadi Elegan di Restoran Serba Putih
Malam itu, saya memutuskan untuk “naik kelas”. Bukan naik pangkat, tapi naik tingkat dari warung pecel lele tenda biru ke alam semesta yang bernama A fine dining restaurant with white tablecloths, chandeliers, and attentive waitstaff. Ya, Anda tidak salah dengar. Restoran itu begitu mewah, saking mewahnya, saya curiga taplak mejanya ditenun dari air mata bidadari.
🎭 Misi Penyelamatan Diri dari Kekakuan
Begitu melangkah masuk, rasanya seperti memasuki galeri seni yang menjual makanan mahal. Lampu-lampu kristal (atau $chandeliers$, kalau kata orang kaya) berkilauan memantulkan navolapizza.com cahaya dramatis ke atas taplak meja yang… ya, Anda tahu, white tablecloths. Putihnya sungguh mengancam. Putihnya bukan putih biasa, tapi putih yang berteriak, “Tumpahkan sedikit saja saus sambal, dan hidupmu akan berakhir!” Insting pertama saya adalah mundur dan mencari nasi kucing, tapi dompet sudah terlanjur bergetar karena melihat daftar harga. Saya harus bertahan.
Petugas penyambut, dengan senyum simetris yang mencurigakan, mengantar saya. Setiap langkah terasa seperti prosesi penobatan. Saya duduk, mencoba terlihat santai, padahal di dalam hati sedang latihan pernapasan ala yoga untuk mengendalikan getaran tangan. Tantangan pertama: serbet. Serbetnya tebal dan diletakkan begitu elegan. Apakah harus ditaruh di pangkuan? Di leher? Atau dililit di kepala seperti turban? Setelah mengamati pasangan di sebelah—yang tampak seperti model majalah—saya menaruhnya dengan hati-hati di pangkuan, seolah-olah itu adalah bayi panda yang baru lahir.
🤵 Pelayan yang Terlalu Perhatian
Hal yang paling mencolok berikutnya adalah para pelayan. Mereka bukan sekadar pelayan, mereka adalah ninja kesopanan. Mereka adalah attentive waitstaff. Anda tidak perlu memanggil mereka; mereka sudah tahu. Saya bahkan curiga mereka punya indra keenam untuk mendeteksi pikiran lapar.
Saya hanya berpikir, “Ah, enaknya kalau ada air putih,” dan poof, air sudah dituang ke gelas kristal saya secepat kilat. Saya sempat batuk kecil karena salah menelan ludah, dan seorang pelayan muncul dari balik pilar, siap menawarkan bantuan medis, atau setidaknya, garpu bersih. Ini membuat makan malam menjadi pengalaman yang mendebarkan, karena Anda harus terus-menerus mengontrol ekspresi wajah dan gerakan tubuh, jangan sampai terlihat seperti orang yang baru pertama kali melihat sendok perak.
Saya memesan hidangan yang namanya terdengar seperti mantra kuno. Ketika hidangan itu datang, porsinya… ya ampun. Porsinya adalah lelucon yang disajikan di atas piring seukuran lapangan tenis. Ada satu potongan kecil daging—yang mungkin dulunya adalah tetangga dari daging yang saya makan di warung tenda—ditemani oleh setetes saus dan satu hiasan daun mint yang kesepian.
“Ini… appetizer?” tanya saya dalam hati. Tapi tidak, itu adalah main course. Saya menghabiskan hidangan seharga biaya kontrakan setahun itu dalam tiga suapan yang penuh perhitungan. Setiap suapan terasa seperti perpisahan.
🥂 Filosofi Hidup di Balik Kemewahan
Selama makan, saya terus memikirkan perbedaan antara tempat ini dan warung favorit saya. Di sini, Anda harus berbisik; di sana, Anda boleh teriak, “Mbak, tambah nasi!” Di sini, Anda butuh peta untuk memahami menunya; di sana, menunya cuma dua: pecel lele atau pecel ayam.
Namun, di balik semua kekakuan dan harga yang membuat jantung berdebar, ada pelajaran yang saya dapat. Berkunjung ke A fine dining restaurant with white tablecloths, chandeliers, and attentive waitstaff bukanlah hanya tentang makan; ini adalah tentang seni pertunjukan, di mana Anda dan semua orang di ruangan itu adalah aktor yang berusaha terlihat sekelas dengan taplak meja putihnya.
Ketika tiba waktunya membayar, dompet saya meronta, tapi saya tetap tersenyum. Sambil melangkah keluar, saya berjanji pada diri sendiri, “Besok, saya akan kembali ke pecel lele. Di sana, taplak mejanya boleh kotor, tapi senyum kenyangnya adalah bintang lima.”
Apakah Anda pernah mengalami perjuangan yang sama di tempat makan mewah? Atau apakah Anda punya rekomendasi makanan mahal yang porsinya tidak pelit?


