Bukan Hanya Manusia, Satwa Memiliki hak Berbahagia!
Pada bukunya yang dengan judul Etika Lingkungan Hidup, A. Sonny Keraf sampaikan berkaitan dengan teori-teori etika lingkungan. Salah satunya yang donkeysofwales.com memikat ialah teori ekosentrisme. Ekosentrisme ataupun lebih dikenali Deep Ecology (DE) menuntut, jika etika lingkungan hidup bukan hanya berporos pada manusia (antroposentrisme), tapi berporos pada semua makhluk hidup. Karena, semuanya yang ada di semesta alam ini meliputi semua substansinya (manusia, hewan, dan tumbuhan) memiliki nilai yang perlu dipandang.
Menurut Arne Naess, seorang Filsuf asal Norwegia, memiliki pendapat jika,
Hak semua bentuk kehidupan untuk hidup ialah sebuah hak universal yang tidak dapat diacuhkan.
Karena itu, manusia harus dapat hargai makhluk hidup lain dengan tidak mengambil hak untuk hidupnya. Tetapi, realitanya ada banyak manusia egois secara beraninya mengambil hidup dari makhluk hidup yang lain, dalam kerangka ini ialah hidup dari satwa. Manusia dengan egoisnya mengambil hidup satwa cuma untuk kebutuhan memberikan kepuasan keinginan mereka saat cari keuntungan semata-mata.
Manusia Susah Untuk Sensitif
Setiap pribadi manusia seringkali ingin dipahami untuk berbagai hal, karena hal itu muncul dari keinginan alami yang terdapat dalam diri setiap pribadi manusia. Karakter ingin dipahami berlaku pada setiap satwa. Percayalah, jika setiap satwa juga ingin dipahami , bahkan juga ingin dipahami nya oleh substansi manusia. Karena, manusia ialah salah satu substansi yang memiliki akal sehat. Tetapi, sayang manusia yang dianugerahi akal sehat malah tidak memakai akal sehat itu dengan sebagus-baiknya. Banyak dari mereka yang memakainya untuk lakukan hal yang memiliki sifat destruktif dan eksploitatif untuk satwa, secara fokus pada keuntungan semata-mata.
Keadaan itu menjadi kedukaan besar untuk kita, karena satwa yang semestinya dapat hidup dengan bebas dan liar di alam malah setiap harinya dibayangi teror manusia yang hendak mengambil hidupnya. Umumnya manusia bertindak yang bikin rugi satwa dengan lakukan pemburuan liar dan perdagangan satwa. Dalam kerangka ini, manusia umumnya cari keuntungan atas sesuatu yang ada di satwa liar, seperti gading pada gajah, sisik dan daging pada trenggiling, cula pada badak, kulit pada harimau, telur pada penyu, dan ada banyak satwa liar yang lain yang manusia selalu bidik untuk memberikan kepuasan keinginan pada orientasinya pada uang dan kenutungan.
Selainnya jadi konsentrasi dari pemburuan liar dan perdagangan satwa liar, rupanya manusia bisa juga mengambil hidup dari satwa-satwa liar dengan buka dan mengalihfungsikan rimba (deforestasi) dan berlangsungnya perselisihan horizontal dalam masyarakat, ke-2 perlakuan itu memacu untuk satwa pada akhirannya jadi korban dari beberapa tindakan manusia. Beberapa tindakan itu tentu saja akan mengusik kestabilan ekosistem alam bebas, karena satwa liar pada hakekatnya menolong jaga kesetimbangan rantai makanan dan jala makanan di alam liar. Pikirkan saja, bila harimau musnah walau sebenarnya harimau ialah pucuk dari transisi rantai makanan, implementasinya jika satwa di bawah rantai makanan ini akan overpopulasi dan dapat berpengaruh pada minimnya makanan mereka di alam bebas.


